Anak Bunda Tak Bisa Diam? Bersyukurlah, Karena Anak Tak Bisa Diam Ternyata Bisa Lebih Cerdas & Bahagia

Posted on
Loading...

Bunda, Kita tahu kalau Bunda kadang sebel melihat tingkah anak yang tak bisa diam. Melihat anak yang lari kesana kemari. Usil, dan bikin jengkel. Tapi, bersabarlah Bunda, karena dibalik anak yang aktif itu sebenarnya ia menyimpan potensi yang sangat luar biasa.

Bunda pasti merasakan repotnya punya anak yang tidak bisa diam! Lari ke sana kemari dan membuat rumah jadi berantakan saja. Lelah memang rasanya jika si kecil merupakan anak yang aktif dan tidak bisa diam.Namun jangan buru-buru kesal menghadapi si aktif. Sebabnya, ada banyak hal yang sebaiknya Ibu syukuri jika memiliki anak yang tidak bisa diam. Berikut daftar manfaat jika si kecil jadi anak yang aktif.

  • Membantu anak jadi lebih cerdas

Gerakan yang dibuat anak nyatanya berdampak pada perkembangan otak anak. Bindy Cummings, seorang konsultan pengembangan anak mengungkapkan orangtua perlu mendorong anak bergerak lebih banyak bahkan sejak usia dini.

Gerakan aktif dapat membantu anak untuk mengontrol tubuh dan postur tubuhnya yang baik. Selain itu, motorik kasar dan halus anak akan terlatih dengan banyaknya gerakan yang dibuat. Kegiatan ini akan berdampak positif pada pertumbuhan otak anak.Saat anak tidak bisa diam, Ibu justru harus hadir untuk membantunya mengenal mana yang perlu dan tidak untuk dilakukan. Hal ini akan membuat si kecil justru lebih cerdas dalam mengatur dirinya sendiri.

“Orangtua perlu ada bersama dengan anak, membuat komunikasi terbuka dan berdiskusi mengenai apa yang akan dilakukan. Misalnya berdiskusi jam berapa anak boleh main dan kapan anak harus makan dan tidur,” ujar Marry Sheedy Kurcinka, pakar parenting sekaligus penulis buku Raising Your Spirited Child and Kids, Parents, and Power Struggles: Winning for a Lifetime.

Anak yang aktif ternyata jauh memiliki pengalaman yang berharga. Sally Fitzgerald, konsultan dari Goodstart Early Learningmengungkapkan anak yang aktif akan menggunakan indera mereka untuk menjelajahi dunia luar.Menurut Fitzgerald, anak yang lebih banyak mengenal dunia luar akan lebih mudah menyelesaikan tugas belajar yang lebih kompleks dan mendukung pertumbuhan kognitif dan bahasa. Ibu perlu mendampingi si kecil ketika bergerak aktif agar ia bisa belajar banyak dari interaksi antara Ibu dan si kecil.

  • Lebih mengenal banyak hal

Anak yang aktif ternyata jauh memiliki pengalaman yang berharga. Fitzgerald mengungkapkan anak yang aktif akan menggunakan indera mereka untuk menjelajahi dunia luar.Menurut Fitzgerald, anak yang lebih banyak mengenal dunia luar akan lebih mudah menyelesaikan tugas belajar yang lebih kompleks dan mendukung pertumbuhan kognitif dan bahasa. Ibu perlu mendampingi si kecil ketika bergerak aktif agar ia bisa belajar banyak dari interaksi antara Ibu dan si kecil.

  • Membantu anak jadi lebih bahagia

Anak yang tidak bisa diam tentunya melakukan berbagai aktivitas fisik misalnya berlari atau melompat. Hal ini sama halnya dengan olahraga. Saat kita berolahraga, serotonin dalam tubuh akan meningkat.Peningkatan ini nantinya dikaitkan dengan perasaan yang bahagia, peningkatan nafsu makan dan berkurangnya depresi. Selain itu, anak yang tidak bisa diam juga akan jauh lebih sehat karena melakukan aktivitas fisik dengan sendirinya.

  1.  Ini Kiat Menggali Bakat & Minat Alami Anak Usia 7-12 Tahun

Kali ini saya akan fokus membicarakan menggali minat anak usia 7-12 tahun, karena menurut Dr. Lucia RM Royanto MSi, MSpEd, Psikolog Pendidikan tataran usia tersebut merupakan periode transformasi yang sensitif.Artinya perkembangan emosi anak tidak terduga, singkatnya anak sedang mengalami masa transisi dari anak–anak ke remaja. Contohnya, pernah nggak Bunda mengalami penolakan si kecil yang sudah tidak mau diajak pergi sama Bunda-nya ke mal? (duuuh kok saya tiba-tiba saya mbreebs mili ya, Bunda).

Nah, kata dr. Lucia itu merupakan persiapan dia untuk melepaskan diri dari kita orangtuanya (tambah pingin mewek nggak siiiih? frown emoticon ). Selain mengalami masa transisi, aspek kognitif, sosial, emosional dan fisiknya juga sedang berkembang pesat. Karena itu penting banget untuk mengenali kemampuannya agar kesempatan dia menemukan bakatnya terbuka lebar.

Perihal menggali bakat pada anak usia 7-12 tahun menjadi tema besar sebuah acara yang diadakan oleh Anchor Boneeto “Bantu Orangtua Temukan dan Gali Minta dan Bakat Alami Anak”. Dan di kesempatan yang sama juga terkuak sebuah hasil penelitian yang berjudul “Understanding Indonesian Kids”.

Penelitian ini dilakukan oleh Anchor Boneeto, mencakup sikap, perilaku, aspirasi, dan figur panutan pada anak sekolah dasar antara usia 7-12 tahun di Indonesia. Hasilnya sebagian orangtua cenderung membesarkan anak–anaknya, semata-mata hanya fokus pada pencapaian akademis saja, dan berujung terhambatnya proses pertumbuhan.Selain itu anak–anak cenderung dibesarkan dengan keterbatasan sosial, contohnya membatasi anak bermain di luar – padahal bermain di luar itu sangat penting, agar anak bisa bereksplorasi.

Hal ini juga bagian dari proses menemukan bakat spesifik pada anak. Misalnya saja, dengan membiarkan anak bergerak aktif, orangtua bisa menemukan bahwa si kecil ini berbakat pada bidang kinestetik. Dari situ bisa diarahkan ke kegiatan yang mengasah kemampunannya. Agar timbul kepercayaan diri.Berikut ini kecenderungan minat anak menurut dr. Lucia:

  • Musikal: bentuknya bisa mengarang lagu, bermain alat musik menyanyi sendiri atau di paduan suara.
  • Kinestetik: bentuknya bakatnya bisa menari, atletik, olahraga, dan kegiatan fisik yang lain.
  • Verbal Linguistik: mengarang puisi, menulis cerpen, story telling, menulis laporan perjalanan.
  • Logika Matematik: melatih hitung-hitungan, membuat program komputer, memikir sebab akibat dari kejadian-kejadian yang dihadapi.
  • Visual Spasial: fotografi, melukis, desain grafis, membuat poster, dan lan-lain.
  • Interpersonal: berdebat, kerja kelompok, berorganisasi.
  • Intrapersonal: membuat jurnal pribadi, menulis diary.
  • Naturalistik: memelihara binatang, mengoleksi benda-benda alam.
  • Spiritual: melakukan pelayanan bagi sesama, volunter dalam kegiatan kemanusiaan.

Dr. Lucia mengingatkan, hindari memaksa anak les atau kursus karena motif pribadi, “Karena dulu, saya nggak sampai selesai les piano-nya, anak saya harus les piano!”, duuuh jangan sampai begini ya, Bunda. “Intinya coba mengeksplorasi semua kemampuan anak, karena anak punya keunikan masing-masing, kegemaran satu anak dengan yang lainnya berbeda.

Nah, keunikan ini harusnya digali lebih dalam, dan orangtua merupakan psikolog terbaik bagi anak untuk menemukan bakat hebatnya,” pungkas dr. Lucia.Selamat menggali bakat dan minat anak, Bunda. untuk bekal hidupnya di kemudian hari

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *